sunan pandanaran

Sunan Bayat (nama lain: Pangeran MangkubumiSusuhunan TembayatSunan Pandanaran (II), atau Wahyu Widayat) adalah tokoh penyebar agama Islam di Jawa yang disebut-sebut dalam sejumlah babad serta cerita-cerita lisan. Ia terkait dengan sejarah Kota Semarang dan penyebaran awal agama Islam di Jawa, meskipun secara tradisional tidak termasuk sebagai Wali Sanga. Makamnya terletak di perbukitan ("Gunung Jabalkat") di wilayah Kecamatan Bayat, KlatenJawa Tengah, dan masih ramai diziarahi orang hingga sekarang. Dari sana pula konon ia menyebarkan ajaran Islam kepada masyarakat wilayah Mataram. Tokoh ini dianggap hidup pada masa Kesultanan Demak (abad ke-16).
Terdapat paling tidak empat versi mengenai asal-usulnya, namun semua sepakat bahwa ia adalah putra dari Ki Ageng Pandan Arangbupati pertama Semarang. Sepeninggal Ki Ageng Pandan Arang, putranya, Pangeran Mangkubumi, menggantikannya sebagai bupati Semarang kedua. Alkisah, ia menjalankan pemerintahan dengan baik dan selalu patuh dengan ajaran – ajaran Islam seperti halnya mendiang ayahnya. Namun lama-kelamaan terjadilah perubahan. Ia yang dulunya sangat baik itu menjadi semakin pudar. Tugas-tugas pemerintahan sering pula dilalaikan, begitu pula mengenai perawatan pondok-pondok pesantren dan tempat-tempat ibadah.
Sultan Demak Bintara, yang mengetahui hal ini, lalu mengutus Sunan Kalijaga dari Kadilangu, Demak, untuk menyadarkannya. Terdapat variasi cerita menurut beberapa babad tentang bagaimana Sunan Kalijaga menyadarkan sang bupati. Namun, pada akhirnya, sang bupati menyadari kelalaiannya, dan memutuskan untuk mengundurkan diri dari jabatan duniawi dan menyerahkan kekuasaan Semarang kepada adiknya.
Pangeran Mangkubumi kemudian berpindah ke selatan (entah karena diperintah sultan Demak Bintara ataupun atas kemauan sendiri, sumber-sumber saling berbeda versi), didampingi isterinya, melalui daerah yang sekarang dinamakan SalatigaBoyolaliMojosongoSela Gringging dan Wedi, menurut suatu babad. Konon sang pangeran inilah yang memberi nama tempat-tempat itu). Ia lalu menetap di Tembayat, yang sekarang bernama Bayat, Klaten, dan menyiarkan Islam dari sana kepada para pertapa dan pendeta di sekitarnya. Karena kesaktiannya ia mampu meyakinkan mereka untuk memeluk agama Islam. Oleh karena itu ia disebut sebagai Sunan Tembayat atau Sunan Bayat.
Share:

batik jarum

 Desa wisata batik jarum bayat klaten ,  ehm...,:) pastinya kita yang mencintai batik akan berbangga hati apabila kita bisa melestarikan batik.   Beberapa cara bisa kita lakukan, antara lain ; mengunjungi desa wisata batik, bisa juga museum batik, lalu bisa juga dengan memakai batik atau menawarkan kepada sanak saudara kita.  hehe.. lebih baik lagi juga, jika kita mau membelikan Batik bagi mereka.  :D   #beramalyuk     atau bisa juga dengan cara menjualkan batik dari para pengrajin batik. sehingga kelangsungan produksi batik akan terus berlanjut.

     Dalam postingan saya kali ini, saya ingin mengenalkan sepintas tentang Desa wisata batik jarum bayat klaten jawa tengah. Kenapa dalam postingan ini saya beri judul Desa wisata batik? yups.. betul, karena sekarang yang menjadi prioritas dari desa Jarum bayat klaten ini adalah wisata batik. Meskipun potensi yang lain juga ada, tapi saat ini desa jarum terlebih dahulu hendak mengenalkan Batik asli jarum kepada seluruh indonesia bahkan dunia. Beberapa pengrajin batik ada di desa jarum bayat ini.  Mulai dari batik kayu dan batik kain serta batik keramik. Batik kayu bisa meliputi topeng ,almari , tempat minuman, wayang, patung , sandal /sendal, gelang, gantungan kunci, berbagai mainan seperti dakon, sangkar burung dan masih banyak lagi.  Batik kain bisa berupa batik warna alam / alami, bisa juga warna sintetis atau warna alam. begitu juga dengan batik keramik, semua jenis keramik berbahan dasar tanah liat bisa difinishing dengan batik. Sehingga nilai seni dari kerajinan batik ini semakin istimewa.

   Bagi anda yang ingin berkunjung, belajar batik atau berwisata batik, silahkan datang dan nikmati ramahnya berwisata batik di desa jarum bayat klaten jawa tengah.  kami juga menyediakan homestay, bagi wisatawan/ rombongan yang ingin singgah bersama kami.
Share:

rowo jombor

Waduk Rowo Jombor terletak di Dukuh Jombor, Desa Krakitan, Kecamatan Bayat, + 8 Km. (delapan kilo meter) ke arah tenggara dari pusat Kota KlatenJawa TengahIndonesia. Dari Kota Klaten ada dua rute perjalanan yang dapat ditempuh menuju ke objek wisata ini. Lewat jalur barat: Kota Klaten – pertigaan Bendogantungan Desa Sumberejo, belok kiri / ke arah selatan – Desa Danguran – Desa Glodogan – Desa Jimbung – Rowo Jombor. Lewat jalur timur: Kota Klaten – Stasiun Klaten – By Pass – belok kanan / ke arah selatan – Terminal Klaten yang bari dibangun—Kelurahan Buntalan – Desa Jimbung – Rowo Jombor.
Waduk Rowo Jombor mempunyai panjang 7,5 Km. (tujuh setengah kilo meter).Bentuknya memang tidak persegi empat, tetapi segi banyak tidak beraturan. Waduk ini mempunyai kedalaman 4.5 m (empat setengah meter) dan mampu menampung air 4.000.000 m3 (empat juta meter kubik). Tujuan utama pembuatan waduk Rowo Jombor adalah untuk menampung air dari sungai-sungai di sekitarnya untuk mengendalikan banjir, dan sebagai persediaan air irigasi untuk mengoncori sawah-sawah di sekelilingnya pada musim kemarau. Namun kemudian juga dimanfaatkan untuk keperluan lain, seperti pariwisata dan perikanan.
Di sekitar waduk Rowo Jombor ini terdapat pemandangan alam yang indah, situs peninggalan zaman dahulu yang diyakini mempunyai nilai sejarah, museum pertanian, pusat-pusat kerajinan, warung apung, arena olahraga, arena bermain, dan lain-lain.
Share:

kawah putih

Solopos.com, KLATEN --Objek wisata Kawah Putih Negeri Dongeng  di Dukuh Gajahrejo, Desa Talang, Bayat, Kabupaten Klaten, dibuka untuk umum mulai Rabu (20/6/2018). Objek wisata seluas 1,5 hektare ini menurut rencana akan menyajikan replika tujuh keajaiban dunia.
Pantauan solopos.com, Kawah Putih menyajikan tiga bukit gamping kecil untuk menikmati lanskap kota dari ketinggian. Di lokasi itu dibangun beberapa gazebo untuk berteduh salah satu di bukit dekat papan nama bertuliskan Kawah Putih.
Di salah satu bagian, terdapat replika Merlion dari Singapura. Tak jauh dari situ sebuah kolam sedang dalam proses pembangunan.
Untuk menikmati pemandangan Kawah Putih, pengunjung membayar tiket masuk senilai Rp3.000. Pengunjung disambut dengan koridor berhiaskan ban bekas warna-warna kemudian disambut anak tangga menuju sejumlah bukit yang ada.
Pengelola Objek Wisata Kawah Putih Negeri Dongeng, Nasir Zubaidi, mengatakan penataan Kawah Putih dimulai sejak bulan lalu menelan dana sekitar Rp700 juta. Kawah Putih menyediakan pemandangan melihat-lihat lanskap kota dari ketinggian.
Yang membedakan dari objek wisata sejenis adalah keberadaan tanah gamping berwarna kekuning-kuningan yang dimilikinya. "Objek pemandangannya sama. Ke depan di sini akan menjadi arena bermain anak dengan segala jenis permainan dan replika tujuh keajaiban dunia," kata dia, saat ditemui di lokasi Kawah Putih, Rabu.
Ia berharap keberadaan Kawah Putih bisa menjadi tujuan wisata alternatif warga saat berkunjung ke Klaten. Tak hanya itu, penataan kawasan itu diharapkan bisa mendorong peningkatan ekonomi warga di sekitar Kawah Putih.
Salah satu pengunjung, Sagino, 37, mengatakan sengaja datang ke Kawah Putih setelah menerima informasi dari media sosial. Ia penasaran lalu datang ke lokasi bersama anak dan istrinya. "Sampai sini ternyata panas sekali. Mungkin perlu disediakan gazebo lebih banyak untuk berteduh," ungkap pria asal Desa Kradenan, Kecamatan Trucuk, Klaten.
Ia juga mengeluhkan di lokasi itu belum memiliki tempat sampah. Ia khawatir minimnya tempat sampah membuat pengunjung membuang sampah sembarangan seperti terjadi di Bukit Cinta pada masa awal pembukaan. "Semoga tempat sampah dibikin di beberapa lokasi untuk memudahkan pengunjung buang sampah," harap dia.
Pengunjung lainnya, Nurwanti, 35, asal Desa Ketandan, Kecamatan Klaten Utara, mengatakan selain mengobati rasa penasarannya, kedatangannya ke Kawah Putih bersama suami dan anak dijadikan sebagai piknik Lebaran. Biasanya, ia piknik ke Jogja bersama keluarga.
Namun, kali ini ia memutuskan ke Kawah Putih lantaran khawatir terjebak macet selama perjalanan ke Jogja. "Jadi ke sini aja yang dekat. Tempatnya lumayan buat foto-foto. Tapi memang panas sekali cuacanya " ujar dia sembari meneruskan berfoto menggunakan kamera ponselnya.
Share:

bukit arjuna

Wedang Kopi Prambanan – Jawa Tengah memiliki banyak sekali destinasi wisata menarik dan tentunya instagramable. Salah satunya destinasi wisata Jawa Tengah yang patut untuk kamu perhitungkan yaitu Klaten. Dikalangan wisatawan, Klaten dikenal dengan surganya wisata  underwater, seperti Umbul Ponggok, Umbul Manten, Umbul Sigedang, Umbul Kapilaler dan sejumlah umbul lainnya. Namun, perlu kamu ketahui, Klaten bukan hanya memiliki wisata underwater saja, ada sejumlah destinasi wisata menarik lainnya yang rekomended untuk kamu masukan ke dalam list jalan-jalannmu. Nah, baru-baru ini, Klaten menghadirkan spot wisata baru  bernama Puncak Arjuna.
Puncak Arjuna ini merupakan destinasi wisata baru dan kekinian yang rekomended untuk dikunjungi di Klaten. Menawarkan spot selfie instagramable dengan latar belakang alam hijau khas bebukitan, Puncak Arjuna sukses mendapat tempat di hati wisatawan. Selain menawarkan pemandangan alam khas bebukitan yang memesona dan sejumlah spot foto instagenik. Kamu juga akan disambut oleh penduduk setempat yang ramah tamah. So, pastikan Puncak Arjuna masuk dalam list destinasi jalan-jalanmu saat ke Klaten ya.

Lokasi dan tiket masuk menuju obyek wisata Puncak Arjuna Klaten

Puncak Arjuna terletak di Desa Sidowayah, Gunung Gajah, Kec. Bayat, Kabupaten Klaten, Jawa Tengah . Untuk sampai lokasi, waktu yang kamu tempuh sekitar 30 menit atau memakan jarak tempuh sekitar 13,6 kilometer dari pusat kota Klaten. Akses menuju lokasi terbilang mudah ditemukan karena memang lokasinya tidak terlalu jauh dari kawasan pusat kota. Beberapa kilometer sebelum sampai lokasi, kamu akan disambut oleh jalanan naik turun dan pemandangan khas pedesaan juga alam hijau yang sungguh mendamaikan dan yang pastinya akan membuat perjalananmu sebelum sampai lokasi terasa tidak membosankan. Buat kamu yang ingin foto-foto cantik di kawasan Puncak Arjuna, untuk tiket masuknya kamu cukup bayar seikhlasnya.
Nah, itulah sedikit ulasan tentang obyek wisata Puncak Arjuna yang merupakan wisata baru dan kekinian di Klaten. Kalau ke Klaten pastikan mampir ke sini ya. Pastikan juga membawa kamera, karena obyek wisata satu ini salah satu spot rekomended di Klaten untuk kamu ajak foto.
Puas menikmati keindahan dan foto-foto di Puncak Arjuna, jangan lupa bahagiankan perutmu di Wedang Kopi Prambanan. Wedang Kopi Prambanan ini merupakan tempat makan atau resto yang menawarkan nuansa klasik, view instagenic dan harga menu ekonomis. Selain itu, di sini juga asik untuk ngopi, meeting dan cocok untuk dijadikan tempat merenggangkan otot-otot yang tegang selepas jalan-jalan seharian.
Jadi, Wedang Kopi Prambanan ini terletak tidak terlalu jauh dari Candi Prambanan, tepatnya di jln. Prambanan – Manisrenggo No.16, Bugisan, Kecamatan Prambanan, Klaten.  Waktu yang ditempuh untuk sampai lokasi memakan waktu sekitar  5 menit dari obyek candi Prambanan, sedangkan dari pusat Klaten memakan waktu sekitar 23 menit, dan dari pusat kota Jogja memakan waktu sekitar 53 menit. Buka dari pukul pukul 9.30 pagi hingga 10 malam. Ditunggu kehadirannya. Selamat jalan-jalan. Selamat kulineran. Tetaplah jaga kebersihan.
Share:

cemoro sewu

DSC01128
Sebelum berkunjung ke beberapa objek di wisata di daerah bayat seperti makam pandanaranatau curug bayat, atau bagi kalian yang ingin berkunjung ke warung apung rowo jombor, salah satu destinasi Cemoro Sewu mungkin bisa jadi salah satu tempat wisata alam sebelum berkunjung ke objek wisata lainnya.
Cemoro sewu merupakan destinasi wisata yang menyuguhkan pemandangan alam di daerah bayat dengan beberapa pohon cemaranya –yang jumlahnya tidak mencapai sewu (seribu) tentunya–. Sebelum mencapai lokasi cemoro sewu ini kita dapat melakukan tracking ringan melalui jalan setapak menaiki bukit yang dijadikan lahan berkebun oleh warga sekitar. Lokasinya yang menanjak mengharuskan kita memarkirkan kendaraan di bawah. Emang belum ada lahan parkir di sekitar sini, tapi kita dapat memarkirkan kendaraannya di rumah warga setempat.
Dilokasi ini kita dapat menikmati pemandangan sekitar dengan suasananya yang sangat sejuk (ati-ati masuk angina ðŸ˜€ ). Disini juga kita dapat melakukan kegiatan alam seperti outboand bersama rombongan atau sekedar duduk dengan alas tikar dengan bekal ala-ala orang piknik ðŸ˜€
Untuk mencapai lokasi ini, dari arah cawas sebelum pertigaan ringinan (biasa orang sekitar menyebutnya, karena ada pohon beringin) di sebelah kanan aka nada gapura menuju ke sebuah desa, nah dari situ kita tinggal lurus mengikuti jalan. Emang gak ada petunjuk untuk mengarah ke lokasi ini karena memang bukan sebuah tempat wisata yang dikelola oleh pemerintah maupun warga setempat. Jadi jangan lupa bertanya kalo takut nyasar ðŸ˜€
Share:

bukit patrum


Kawasan wisata Bukit Patrum, di Desa Krakitan Kecamatan Bayat yang terus dikembangkan menjadi obyek wisata unggulan di Kabupaten Klaten. (Masal Gurusinga/koranbernas.id)
KORANBERNAS.ID--Bukit Kapur di wilayah RW 19 Desa Krakitan Kecamatan Bayat, merupakan kawasan penambangan warga yang sudah berlangsung lama. Karena keberadaan bukit itu dipandang potensial menjadi tempat wisata maka Pemerintah Desa (Pemdes) Krakitan terus mengembangkan kawasan itu dengan membangun sejumlah sarana prasana penunjang.
Seperti akses jalan menuju lokasi, membangun gazebo-gazebo untuk tempat berteduh dan beristirahat di puncak bukit dan di bawah bukit
Kepala Desa Krakitan Nurdin mengatakan keberadaan bukit kapur atau sekarang sudah disulap menjadi kawasan wisata bernama Photorium Bukit Patrum merupakan peninggalan kolonial Belanda yang sudah lama tidak berfungsi.
“Jadi bukit itu sudah ada sejak jaman Belanda. Ceritanya bangunan dipuncak bukit itu sebagai tempat untuk menyimpan amunusi bahan peledak waktu itu,” kata Nurdin.
Setelah Indonesia Merdeka kata dia, bangunan di puncak bukit menjadi bangunan kosong. Sementara warga sekitar menjadikan kawasan itu sebagai tempat menambang. Namun dalam perkembangannnya warga yang menambang juga nyaris tidak ada sehingga ada pemikiran untuk mengembangkan kawasan itu menjadi kawasan wisata. Apalagi kawasan itu merupakan tanah kas desa.
Kedepannya, jika kawasan itu sudah efektif menjadi kawasan wisata akan dikeloka oleh BUMDes Tirta Insan Mandiri Desa Krakitan. Sayangnya, meski pengurusnya sudah terbentuk namun SK-nya belum ada. Nurdin berharap SK kepengurusan BUMDes bisa terbit pada 2018.
“Personelnya sudah ada. Tinggal nunggu SK saja. Kemarin sebenarnya sudah mau dibuat tetapi kami sibuk dengan kunjungan menteri,” tutur Nurdin.
Meski pembangunan sarana prasarana wisata di Photorium Bukit Patrum belum lengkap namun pengunjung sudah ada yang berdatangan ke kawasan itu untuk menikmati keindahan pemandangan dan berphoto ria di atas bukit.  Memang jumlah pengunjung belum banyak karena fasilitas yang ada belum lengkap. Numun keberadaan Bukit Patrum telah mendatangkan hasil bagi warga sekitar dengan membuka usaha.
“Penasaran juga mau photo diatas bukit. Ternyata pemandangannya indah sekali karena dari atas bukit bisa melihat pemandangan kota Klaten,” kata Indah, salah seorang pengunjung.
Untuk masuk ke Bukit Patrum memang tidak gratis. Semua pengunjung harus membayar di posko yang dibangun di belakang Pasar Jimbung.
Menurut Kades Krakitan, Nurdin biaya masuk pengunjung tidak masuk ke kas desa karena digunakan untuk operasional petugas yang ada dilpangan.
“Untuk sementara ini buat operasional petugas di lapangan. Tetapi besok setelah ada SK-nya semua pendapatan akan masuk desa,” jelasnya. (SM)
Share:

asal sekolah dan perjalanan ke unriyo

Aku berasal dari SMK n 2 Gedangsari. Saya mengambil jurusan Akuntansi. setelah lulus aku berniatan untuk bekerja. Tetapi aku d suruh kakakku melanjutkan sekolah lagi. Dan saya mencari informasi sekolah lagi ke kakak kelas alumni. Saya diberitahu di Universitas Respati Yogyakarta. Dan saya langsung merekomendasikan kepada guru BK saya. Setelah itu saya langsung daftar kesini bersama teman saya. Tetapi teman saya tidak jadi sekolah disini. dan saya pun sendirian.
Share:

watu sepur

Jika berkunjung ke kabupaten klaten, ada satu kecamatan yang terkenal dengan kerajinan gerabah dan batik yaitu kecamatan Bayat. Selain itu daerah bayat juga terkenal dengan wisata rohaninya yaitu makam sunan pandanaran dan juga Rowo Jombor serta berbagai macam wahana wisata baru yang menarik untuk dijelajahi dan biayanya yang cukup murah yang terus tumbuh dan berkembang di kecamatan bayat, salah satunya adalah wisata Watu Sepur yang terletak di Dusun Bogoran, Desa Jotangan, Kecamatan Bayat, Kabupaten Klaten. Menurut penuturan warga yang saya tanya saat ke lokasi, wisata Watu Sepur dibangun sekitar bulan januari 2018 jadi masih tergolong baru. Biaya masuk/tiketnya cuma Rp 2.000 ditambah parkir Rp 2.000 untuk sepeda motor dan Rp 5.000 untuk mobil dan sudah disediakan loket jadi nanti membayar parkir dan biaya masuknya sekaligus di loket tersebut. Area parkirnya belum cukup luas seperti yang ada di bukit cinta mungkin masih baru dan pengunjungnya belum banyak jadi belum optimal tapi pelayanannya sangat bagus saat saya datang sudah dibantu diatur sama petugasnya dan dicarikan tempat yang teduh jadi motor terutama jok motor tidak kepanasan.

Jika belum mengetahui lokasinya bisa menggunakan bantuan google map cari dengan kata kunci watu sepur bayat atau bisa anda klik disini . Saya berkunjung 10 Mei 2018 dari Kebonarum dan menggunakan bantuan google map kemudian google map menyarankan lewat rowo jombor, dari lokasi saya sampai watu sepur jalannya sudah bagus cuma ada jalan yang masih kurang baik yang dari rowo jombor ke watur sepur mungkin sepanjang 100 meter tapi selain itu sudah bagus. Dari rowo jombor sampai watu sepur kurang lebih sekitar 3KM – 3,5KM. Saat kesana saya tidak menemukan papan petunjuk lokasi jadi mengandalkan bantuan google map dan saat google menunjukan sudah sampai ternyata belum sampai lokasi yang sebenarnya karena tidak menemukan papan petunjuk dan ada warga akhirnya saya tanya dan diberitahu untuk naik sekitar 300-500 meter dan akhirnya sampai lokasi.
Saya kira sebelumnya itu dinamakan Watu Sepur itu batu dipahat dan dibuat sedemikian rupa sehingga mirip kereta api tetapi ternyata menurut penuturan salah satu warga dinamakan watu sepur itu karena batunya yang panjang dan panjangnya mungkin kurang lebih sekitar 100-150 Meter. Jika dari tempat parkir atau gerbang pintu masuk maka naik tangga berbatu yang belum cukup bagus mungkin kedepannya bisa diperbaiki misal dengan dicor setelah sampai atas ada 2 pilihan, jika ke kanan maka ke watu sepur tetapi hati-hati karena belum ada pagar, jika ke kiri maka akan ke Gardu Pandang yang terbuat dari batang pohon yang mana bisa anda gunakan untuk melihat sebagian kota klaten dari atas dan menjadi spot foto yang cukup bagus untuk dishare ke sosial media.

Dalam perjalanan ke atas akan dijumpai banyak spot foto yang cukup bagus yang bisa dishare ke sosial media seperti kursi ayunan dari bambu, Hammock (tempat tidur gantung), jembatan rindu alam, kursi yang terbuat dari batang pohon dan dihiasi bunga-bunga sintetis, dll. Fasilitas yang disediakan juga sudah komplit selain tempat loket dan tempat parkir akan dijumpai semacam gazebo dan tempat duduk yang bisa anda gunakan untuk beristirahat dan memakan bekal yang anda bawa, jika tidak membawa bekal tenang saja karena sudah ada beberapa warung yang menjajakan makanan dan minuman. Saat kesana Mushola dan kamar mandi masih dalam proses pembangunan jadi belum bisa digunakan. Sudah disediakan tempat sampah agar pengunjung tidak nyampah sembarangan. Lokasinya idum, teduh, sejuk, gak terlalu panas dan juga udaranya segar karena banyak pohon tinggi seperti pohon jati dan mahoni yang menaungi.
Sebagian hasil dari wisata Watu Sepur akan dimanfaatkan oleh muda-mudi setempat untuk kegiatan sosial seperti disumbangkan ke panti asuhan, dll. Oh iya lokasinya sangat cocok untuk outbond maupun camping apalagi mengajak anak-anak bermain kesana. Dengan segala kelebihan dan kekurangannya tidak ada salahnya bagi anda yang berada di klaten atau di luar klaten untuk menyempatkan diri bersama keluarga atau teman untuk mengunjungi wisata Watu Sepur kemudian foto-fotonya anda share agar semakin banyak yang tahu dan membuat pariwisata klaten menjadi lebih berkembang dan maju serta menyejahterakan warga klaten.
Share:

Biodata Pribadi

Biodata Pribadi

Hallo Guys. Perkenalkan nama saya Tiyas Anggi Astuti. Kalian bissa memanggil aku Tiyas. Saya berasal dari Pandanrejo RT 02/RW 02 Banyuripan Bayat Klaten. Aku lahir pada tanggal 04 Agustus 2001. Aku beragama Islam. Saya sekarang sekolah di Universitas Respati Yogyakarta. Aku mempunyai 1 ayah dan 1 ibu. Dan aku mempunyai 4 saudara kandung. Hobi saya adalah main voli, futsal, dll. Cita-cita saya menjadi seorang programmer.
Share:

Gali Potensi Wisata Baru di Perbukitan Bayat

KLATEN - Geografis Kecamatan Bayat, Klaten didominasi perbukitan. Ini yang menjadikannya berpotensi muncul objek wisata baru. Paling gres, yakni wisata pemandangan perbukitan di Desa Tegalrejo, Kecamatan Bayat. Hanya saja, potensi wisata ini belum digarap maksimal oleh pemerintah desa setempat.
Objek wisata ini berada di kompleks Makam Ki Ageng Wireng Kilat. Salah seorang prajurit Keraton Kasunanan Surakarta Hadiningrat. Kawasan ini baru dikenal luas setelah pelantikan perangkat desa, awal Mei lalu.
”Kita memiliki program untuk membuat jalan lingkar yang didanai APBDes senilai Rp 15 juta. Termasuk membuat master plan untuk pengembangan potensi wisata ini. Bekerja sama dengan Bappeda Klaten. Anggaran yang sudah kami siapkan Rp 50 juta,” jelas Kepala Desa Tegalrejo, Tri Wiyono kepada Jawa Pos Radar Solo, Minggu (27/5).
Lebih lanjut, Tri mengatakan, kawasan perbukitan dan kompleks makam itu bakal dikembangkan menjadi wisata religi serta pemandangan alam. Nantinya, perbukitan tersebut akan dilengkapi dengan gazebo serta kolam renang. Hal ini menjadikan pengunjung bisa melepaskan kepenatannya dengan berwisata di perbukitan tersebut.
Saat wartawan Koran ini berkunjung ke sana, beberapa waktu lalu, hanya tampak satu pendapa saja. Termasuk fasilitas air minum dan sanitasi berbasis masyarakat (Pamsimas). Memang nantinya air yang akan digunakan untuk mengisi kolam renang berasal dari Pamsimas tersebut. Di area calon destinasi baru itu, juga terdapat area pemakaman umum. Di samping makam Ki Ageng Wireng Kilat.
”Luas lokasi yang akan kami kembangkan di daerah perbukitan ini sekitar 5 hektare. Sedangkan ketinggian bukit ini kalau dihitung dari jalan kampung sekitar 140 meter. Saya harapkan potensi wisata ini bisa segera dikembangkan,” beber Tri.
Camat Bayat, Edy Purnomo mendukung penuh rencana pengembangan wisata di Desa Tegalrejo. Dia berharap Desa Tegalrejo mampu mengikuti jejak objek wisata Bukit Cinta di Desa Gunung Gajah, Bayat yang terlebih dahulu booming.
”Bagi perangkat desa yang tidak terpilih kemarin bisa dialihkan dan diperbadayakan dalam pengembangan potensi wisata di Tegalrejo ini. Apalagi ke depannya, potensi wisata yang dikembangkan ini bisa menjadi aset desa baru,” tandas Edy.
https://radarsolo.jawapos.com/read/2018/05/28/77046/gali-potensi-wisata-baru-di-perbukitan-bayat
Share:

GAJAH

BAYI KETAWA

Postingan Populer

Diberdayakan oleh Blogger.

Recent Posts

Unordered List

  • Lorem ipsum dolor sit amet, consectetuer adipiscing elit.
  • Aliquam tincidunt mauris eu risus.
  • Vestibulum auctor dapibus neque.

Sample Text

Lorem ipsum dolor sit amet, consectetur adipisicing elit, sed do eiusmod tempor incididunt ut labore et dolore magna aliqua. Ut enim ad minim veniam, quis nostrud exercitation test link ullamco laboris nisi ut aliquip ex ea commodo consequat.

Pages

Theme Support

Need our help to upload or customize this blogger template? Contact me with details about the theme customization you need.